Kepala Sekolah selayaknya adalah motor penggerak kelompok kecil lembaga pendidikan yang sering di sebut sekolah, menjadi seorang manajer yang berbagai tingkah laku, kebijakan, keputusan dan lain sebagainya dengan tujuan mulia meningkatkan mutu pendidikan. Kata "mutu pendidikan" seakan menjadi senjata utama Kepala Sekolah untuk menghalalkan segala keputusan, kebijakan yang tanpa didasari oleh pengetahuan dan pemahaman aspek-aspek atau faktor-faktor yang melandasinya. Seakan dengan tujuan baik untuk meningkatkan mutu pendidikan akan berakibat baik pula terhadap kemajuan sekolah yang dipimpinnya tanpa mau memahami dan mendengar ide yang datang dari lingkup faktor yang paling kecil semisal guru, orang tua, atau pihak lain yang terlibat atau tidak terlibat secara langsung terhadap terlaksananya pendidikan di sekolah yang dia pimpin. Hal ini sering kali tidak disadari oleh seorang pemimpin sekelas Kepala Sekolah, atau bahkan banyak diantaranya Kepala Sekolah justru melakukan tindakan tersebut dengan menutup semua kemampuan faktor pendukung kecil sekelas guru dengan dalih bahwa mereka "guru" tidak tahu keadaan yang terjadi didalam dan diluar lingkungan sekolah, seakan ingin menunjukan kepada mereka "guru" bahwa mereka tidak lebih pintar dari Kepala Sekolah. Sesuatu yang kadang sulit untuk di ungkap tetapi terjadi didalam lingkungan kerja sekolah atau bahkan sebagian besar di sekolah - sekolah Indonesia. Kepala Sekolah dengan karakter kaku dan keras dalam berbagai hal sungguh menjadi bom waktu bagi dirinya sendiri atau sekolah yang dipimpinnya. Perlahan tapi pasti bom tersebut akan meledak dan akan menghancurkan dirinya sendiri dan yang paling parah justru ikut menghancurkan seluruh bagian dari sekolah. Hal ini jelas sangat merugikan orang lain yang ikut terlibat langsung atau pun tidak langsung dalam mengelola pendidikan di sekolah tersebut.Benarkah dengan dalih "meningkatkan mutu pendidikan" harus dijalankan dengan gaya "menekan" kepada guru? Seakan guru adalah kambing hitam terhadap ketidak berhasilan suatu sekolah, seakan guru adalah cikal bakal keruntuhan suatu sistem pendidikan di sekolah, seakan guru adalah penghambat kemajuan cara berfikir Kepala Sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan disekolah yang dipimpinnya. Benarkah Kepala sekolah dibayar untuk memarahi dan menyalahkan guru? Seakan guru adalah biang dari berbagai permasalahan yang timbul disekolah, seakan guru adalah tidak lebih pintar dari Kepala Sekolah, seakan guru adalah penjahat.
Pengawas, Kepala Sekolah, Guru, Siswa dan lain sebagainya adalah sistem integral yang jika salah satunya hilang maka tidak akan terjadi proses regenerasi sempurna. Negara ini akan kehilangan generasi penerus yang diharapkan dapat memperbaiki keadaan sekarang dikemudian hari agar lebih baik lagi. Memang permasalahan-permasalahn seperti ini klasik dan sudah lama berkembang dilingkungan pendidikan Indonesia, tetapi apa upaya untuk bisa memperbaiki permasalahan ini? Tidak perlu dijelaskan lagi apa tugas dan tanggung jawab setiap komponen sekolah baik itu Kepala Sekolah, Guru, Pengawas, Siswa dan kelengkapan lainnya.
Dari sekian banyak faktor penentu keberhasilan suatu lembaga pendidikan, ada hal mendasar yang patut kita telaah bersama yaitu faktor IQ, EQ dan SQ sumber daya manusia yang terlibat dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah. 3 hal itu seakan sepele tapi merupakan cikal bakal yang sangat sempurna untuk bisa mendukung faktor lain yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Seorang pengawas yang katanya "teladan" selalu memberikan wejangan di sekolah dengan kata-kata "amal dan ibadah" tanpa ada solusi untuk meningkatkan faktor IQ maupun EQ, entah sama-sama tidak menguasai 2 faktor lainnya atau mungkin sama sekali tidak tahu???
Islam selalu dibawa oleh pengawas teladan tersebut untuk mengarahkan para guru agar giat bekerja dan jika perlu menguras waktu dan tenaga hanya untuk mencapai tujuan dari kepala sekolah semata. Sungguh suatu hal yang terlalu sempit untuk diberikan atau bahkan "ditekankan" kepada guru. Islam adalah ideologi yang sangat luas dan mendasar, bukan sesuatu untuk diambil sebagian-sebagian hanya untuk kepentingan segelintir orang dan atau bahkan keuntungan sepihak.
Sungguh sesuatu yang perlu kita perbaiki bersama disaat sekolah mengadopsi sistem pendidikan sekuler kapitalis dengan menyelipkan ajaran-ajaran Islam didalamnya sebagian-sebagian hanya untuk kepentingan segelintir orang. Katakan dengan keras dan bertindaklah dengan tegas bahwa kita ingin mendirikan lembaga pendidikan sesuai dengan ajaran Islam yang kaffah, tidak sebagian kapitalis dan sebagian Islam, karena hal itu jelas tidak bisa menyelamatkan pendidikan Indonesia selama ini, bahkan justru semakin terpuruk, justru semakin sekuler.
Hanya satu kalimat Ibu pengawas, hanya satu tujuan Pak Kepala Sekolah "Mari selamatkan Indonesia dengan Syariah dan majulah pendidikan Indonesia dengan sistem pendidikan Islam yang kaffah"














