Slide

  • Hendriono Online QS. Shaad, 38: 29
    Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.
  • Help You Earning - Money Solution Help You Earning - Money Solution
    Dapatkan informasi tentang bisnis diinternet yang bisa dijalankan dari rumah (Work at Home)...
  • Electronic Project - Refference and Design Electronic Project - Refference and Design
    Artikel menarik tentang dunia elektronika dan anda bisa menemukan referensi elektronika lengkap dengan skema, daftar komponen dan PCB...
  • Bonus Program - New Software Daily Update Bonus Program - New Software Daily Update
    Berisi informasi dan link download tentang software-software baru yang layak untuk dicoba, semua disediakan secara gratis...
  • Blogger TuneUp - Tutorial Blogger Blogger TuneUp - Tutorial Blogger
    Blog inovatif yang berisi tutorial, tips, trik dan blogger hack. Ubahlah blog anda semenarik dan seunik mungkin...
  • eBooks Finder - Search and Download Free eBooks eBooks Finder - Search and Download Free eBooks
    Akan banyak refferensi buku menarik yang bisa didownload dan dibaca dirumah tanpa harus pergi ke toko buku...
  • Kotretan Hendriono - Otomotif, Elektronik dan Komputer Kotretan Hendriono - Otomotif, Elektronik dan Komputer
    Catatan kecil tentang dunia otomotif, elektronik dan komputer. Diambil dari pengalaman, percobaan dan kegagalan...
  • Design Graphics - Tutorial, Tips, Trik Desain Grafis Design Graphics - Tutorial, Tips, Trik Desain Grafis
    Belajar desain grafis itu tidaklah sulit jika mau belajar dari blog ini, disajikan dengan sederhana, mudah dan cepat...

Info Blog

Selamat datang di Hendriono Online - saya senang Anda berada di sini, dan berharap Anda sering datang kembali. Silakan berselancar di sini dan membaca lebih lanjut tentang artikel yang kami susun. Ada banyak hal tentang kami, Anda mungkin akan menemukan sesuatu yang menarik.

Berikut adalah beberapa artikel yang kami buat:

  • Berbagai hal yang berhubungan dengan dunia Islam
  • Berbagai hal yang berhubungan dengan dunia Pendidikan
  • Ide-ide baru tentang pemahaman dunia Pendidikan
  • Hasil penelusuran dari berbagai informasi

Baca juga beberapa artikel dari blog lain :

  • Blogger Tune-Up berisi tips dan trik tentang blog.
  • Kotretan Hendriono berisi artikel menarik tentang dunia otomotif, elektronik dan komputer.
  • Bonus Program berisi berbagai software yang layak untuk dicoba.
  • Design Graphics berisi tutorial penggunaan software desain grapis seperti; Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, CorelDraw, dll.
  • Help You Earning berisi informasi tentang berbisnis lewat dan dengan internet.

Artikel Terbaru...

Pentingnya Guru Menguasai Teknologi Informasi

Perkembangan teknologi dewasa ini mengalami peningkatan yang sangat pesat, hal ini adalah hal yang mau tidak mau harus diikuti, jika perlu harus di akselerasi lebih cepat lagi agar generasi kita tidak menjadi generasi plagiator atau generasi konsumtif. Kita harus melepaskan diri sebagai objek/target negara-negara yang lebih dulu menguasai teknologi. Perkembangan teknologi yang ada disekitar kita merupakan senjata bagi negara lain untuk menyerang generasi kita agar lumpuh dan tumpul dalam berbagai aspek, sehingga kita dapat dipastikan menjadi negara bulan-bulanan target kemajuan teknologi tanpa mampu mengimbangi, jangankan menciptakan, mengimbangi atau mengikuti saja sudah tidak mampu. Perkembangan teknologi yang diterima generasi saat ini mampu menciptakan ledakan informasi yang sangat hebat. Jika kita tengok ke kebelakang sekitar tahun 80-an, kecepatan pertumbuhan pengetahuan berjalan 13% persen per tahun, hal ini berarti bahwa pengetahuan yang akan berkembang menjadi 2 kali lipat hanya dalam jangka waktu 5,5 tahun. Ini berakibat pengetahuan dalam bidang tertentu menjadi "kadaluarsa" hanya dalam waktu kurang lebih 2,5 tahun. (Dikutip dari Miguel Ma.Vareka, Education for Tomorrow, APEID, Unesco PROAP, Bangkok, 1990, oleh Santoso S. Hamidjojo).
Akselerasi teknologi juga berlaku didunia pendidikan. Kita bisa memperhatikan teknik-teknik inovasi pembelajaran yang ada di dunia pendidikan Indonesia dewasa ini, hal ini merupakan salah satu geliat pertumbuhan pengetahuan yang terjadi di dunia pendidikan. Guru dituntut untuk menjadi terdepan dalam penguasaan teknologi sebagai salah wujud akselerasi pengetahuan yang mutlak harus di transfer kepada generasi penerus. Hal ini untuk menghindari terjadi gap yang telalu lebar antara penguasaan pengetahun guru dengan penguasaan pengetahuan anak didiknya. Guru yang pada awalnya sebagai sumber, sekarang bergeser essensi-nya menjadi seorang fasilitator yang harus mampu menjembatani antara perkembangan pengetahuan dan teknologi dengan anak didiknya. Hal ini harus memicu para guru agar mau dan mampu berkompetisi dalam alur perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus menerus maju. Jika perlu, guru dipaksa belajar dan terus belajar agar mereka tidak tertinggal dari ilmu pengetahuan dan informasi yang berkembang pada lingkungan anak didiknya. Sungguh hal yang tidak lucu jika ternyata ada anak didik yang menjadi malas belajar karena pengetahuan dan teknologi yang dikuasai gurunya di nilai telah kadaluarsa oleh anak didiknya atau orang tua anak didik. Hal ini bukan hanya mengganggu proses belajar mengajar dikelas tapi menunjukan kemunduran dalam perkembangan pendidikan yang ada dilingkungan tersebut, dimana ternyata lingkungan masyarakat lebih maju dari pada lingkungan pendidikan dalam hal pengetahuan teknologi dan informasi.
Hal yang urgen untuk dilakukan mulai sekarang adalah meningkatkan kualitas guru, pendidik dan tenaga kependidikan untuk bisa mengimbangi perkembangan teknologi dan informasi, agar tujuan mulia pendidikan dapat tercapai dalam waktu yang cukup singkat. Kenapa harus menunggu hari esok jika ternyata apa yang ada dalam lingkungan disekitar sudah tersedia? Tersedia disini bukan dalam arti lengkap atau mencukupi kebutuhan pembelajaran, tapi menunjuk kearah pemanfaatan secara maksimal segala resource yang sebenarnya sudah tersedia walaupun mungkin belum kita sadari sepenuhnya.
Dibawah ini mungkin secuil kendala baik oleh guru atau siapapun yang terlibat dalam mengelola pendidikan:
  • Waktu, orang yang terlibat dalam dunia pendidikan seakan selalu mengkambing hitamkan waktu yang katanya sangat sedikit untuk dapat mentransfer ilmu sebaik mungkin. Padahal waktu itu tersedia banyak untuk melakukan berbagi inovasi pendidikan dan pembelajaran.
  • Media pembelajaran, hal ini juga yang selalu menjadi alasan seorang guru untuk melakukan transfer ilmu dengan baik. Padahal jika kita telisik banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mentransfer ilmu kepada anak didik tanpa harus selalu menggunakan media pembelajaran yang seharusnya. Pertanyaan kecil, kenapa orang dulu mampu menerima dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari bangku sekolah dengan baik? Pemanfaatan yang tidak maksimal berbagai resource yang tersedia adalah salah satu bentuk kurangnya kompetensi guru dalam meramu suatu metode pembelajaran yang baik.
  • Kebijakan, hal ini yang kemudian muncul menghiasi nuansa pendidikan Indonesia, lembaga yang berkewenangan mengelola pendidikan justru terlena dalam berbagai argumen-argumen berbau kebijakan sepihak. Seakan mereka ingin menunjukan wajah pendidikan Indonesia dengan kebijakan yang dibuat sebagai suatu patokan utama yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, dan mereka ingin menunjukan bahwa ini adalah kebijakan yang bisa mengeluarkan Indonesia dari krisis pendidikan yang berkepanjangan. Tapi sayang, kemudian kebijakan itu membelit para pelaksana pendidikan yang ada dilapangan, sehingga ide-ide brilian yang harusnya menjadi pemicu inovasi pendidikan menjadi mandek. Kepentingan-kepentingan yang datang dari sumber yang tidak ada hubungannya dengan pendidikan justru menjadi hal yang harus dibuat kebijakan oleh lembaga-lembaga yang berwenang dalam mengeluarkan kebijakan. Pendidikan dalam arti sebenarnya tersisihkan oleh kepentingan tersebut, bukannya berkembang tapi justru pendidikan Indonesia dikebiri tanpa daya.
Dan... Masih banyak lagi... Telaah dan tunggu artikel berikutnya...
[Selengkapnya]

Hukum Mencabut Bulu Alis

Tampil cantik dan menarik merupakan kodrat kewanitaan. Di era modern ini, sebagian kaum hawa melakukan berbagai macam perawatan agar tampil cantik. Salah satu bentuk perawatan yang ditawarkan rumah-rumah kecantikan adalah mencukur atau mencabut bulu alis mata. Sebagian kaum wanita yang merasa bulus alisnya tidak sesuai dengan keinginan mencoba menghilangkannya. Selanjutnya, mereka akan membentuk sendiri bulu matanya dengan cara melukis sesuai dengan tren dan keinginan. Masalah mencabut atau mencukur bulu alis yang dilakukan kaum hawa telah berkembang sejak zaman dulu. Bahkan, dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud RA, Rasulullah SAW memberi perhatian khusus terhadap masalah ini. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Allah mengutuk perempuan-perempuan pentato dan mereka yang minta ditato, perempuan-perempuan pencukur alis dan mereka yang dicukur alisnya, perempuan-perempuan yang mengikir giginya agar lebih indah dan mereka yang mengubah ciptaan Allah."
Ibrahim Muhammad al-Jamal dalam buku Fiqih Wanita, mengatakan, mengubah ciptaan Allah yang dengan cara menambah atau mengurangi dilarang agama. Menurut dia, mengubah bentuk wajah dengan make up, bentuk bibir maupun alis, termasuk juga mencukur alis, mengecat kuku dan lainnya adalah haram. Menurut al-Jalam, Islam menganggap hal itu sebagai cara berhias yang berlebihan. Lebih jauh dijelaskan, dewasa ini banyak wanita yang justru tidak mengerti tabiatnya sendiri. Mereka tidak tahu bahwa dengan keluarnya dari tabiat kewanitaan, mereka tidak lagi asli dan tidak benar-benar wanita lagi. Padahal, papar al-Jamal, setiap wanita sebenarnya telah diciptakan Allah dengan wajah tersendiri. Oleh sebab itulah, dia meminta agar kaum Muslimah tidak meniru-niru praktik yang dinilai bertentangan dengan Sunatullah tersebut.
Mufti Agung Mesir, Syekh Ali Jum'ah Muhammad juga telah mengeluarkan fatwa terkait an-namsh atau mencabut bulu alis. Menurut dia, terdapat dua pendapat dikalangan para ahli bahasa mengenai masuknya bulu-bulu lain yang tumbuh diwajah kedalam larangan ini. "Perbedaan inilah yang mendasari perbedaan ulama mengenai hukum mencabut bulu selain bulu alis; antara yang menghalalkan dan yang mengharamkannya," papar Syekh Ali Jum'ah. Menurut beliau, an-namishah adalah perempuan yang mencabut bulu alis orang lain. Sedangkan, al-mutanammishah adalah perempuan yang menyuruh orang lain untuk mencabut bulu alisnya. "Ancaman dalam bentuk laknat dari Allah SWT atau Rasulullah SAW atas suatu perbuatan tertentu merupakan pertanda bahwa perbuatan itu termasuk dalam dosa besar," papar Syekh Ali Jum'ah. Sehingga, kata dia, mencabut bulu alis bagi wanita adalah haram jika dia belum berkeluarga, kecuali untuk keperluan pengobatan, menghilangkan cacat atau guna merapikan bulu-bulu yang tidak beraturan. Perbuatan yang melebihi batas-batas tersebut, hukumnya dalah haram. Menurut Syekh Ali Jum'ah, perempuan yang sudah berkeluarga, diperbolehkan melakukannya jika mendapat izin dari suaminya, atau terdapat indikasi yang menunjukan izin tersebut. "Ini merupakan pendapat jumlah [mayoritas] ulama."
Mereka beralasan bahwa hal itu termasuk bentuk berhias yang diperlukan sebagai benteng guna menjauhi hal-hal tidak baik dan untuk menjaga kehormatan ['iffah]. Maka secara syar'i, seorang istri diperintahkan untuk melakukan demi suaminya. Hal itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan ath-Thabari dari istri Abu Ishak.
Pada suatu hari dia berkunjung kepada Aisyah RA. Istri Abu Ishak itu adalah seorang perempuan yang suka berhias. Dia berkata kepada Aisyah, "Apakah seorang perempuan boleh mencabut bulu disekitar keningnya demi suaminya?" Aisyah menjawab, "Bersihkanlah dirimu dari hal-hal yang mengganggumu semampumu." Dalam risalah Ahkaam an Nisaa' karya Imam Ahmad, beliau mengatakan, Muhammad bin Ali al Wariq memberitakan, katanya, "Mahna bercerita kepada kamu bahwa dia pernah bertanya kepada Abu Abdillah tentang mencukur wajah. Maka dia menjawab, "Bagi wanita itu tidak ada jeleknya."Akan tetapi, oleh peneliti risalah itu dijelaskan, "Mencabut pun termasuk mengubah wajah juga. Karena mencabut artinya membedol rambut dari tempat aslinya, sehingga seolah-olah tempat itu akhirnya tidak berambut, padahal aslinya berambut. Berarti mencabutpun sama halnya dengan melakukan perubahan."
Dalam kitab Ad Diin al Khalish, Imam Ahmad kembali menegaskan, "Kalau ada wanita yang tumbuh kumis atau janggut, maka tidaklah haram menghilangkannya, bahkan mustajab atau malah wajib."Berdasarkan pendapat itu wanita hendaknya membersihkan wajahnya sesuai dengan kewanitaannya. Caranya, seperti disampaikan kembali oleh Imam Ahmad, membersihkan wajah dari rambut-rambut yang berlebihan, jangan memakai pisau cukur, tapi hilangkanlah dengan krem, bedak khusus atau yang sejenisnya.
Artikel ini ditulis oleh Yusuf Assidiq, Harian Umum Republika Pada Tajuk "Fikih Muslimah" edisi Jum'at 8 Januari 2010.
[Selengkapnya]

Sulitnya Bahasa Inggris bagi Siswa

Bahasa jika dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki tiga pengertian yaitu; "(1) sistem lambang bunyi berartikulasi yg bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran; (2) perkataan-perkataan yang dipakai oleh suatu bangsa (suku bangsa, negara, daerah, dsb); (3) percakapan (perkataan) yg baik; sopan santun; tingkah laku yg baik;" (Kamus Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional, 2008). Dari pengertian itu jelas, bahwa bahasa memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat komunikasi. Dua orang atau lebih akan mampu menyampaikan apa yang ada dalam pikiran atau perasaan mereka dengan mudah jika disampaikan dengan bahasa. Tetapi walaupun mereka bisa menggunakan bahasa, bukan berarti bisa saling berkomunikasi dengan baik, karena jenis bahasa, tata bahasa, nada, intonasi dan lain sebagainya juga sangat mempengaruhi komunikasi.
Perkembangan dan penguasaan teknologi telah memaksa kesepakatan internasional untuk menggunakan satu bahasa baku yang berlaku dinegara manapun, yaitu Bahasa Inggris. Hampir disetiap negara dibelahan bumi ini sepertinya menyepakati bahwa bahasa internasional yang berlaku adalah Bahasa Inggris. Hal inilah yang justru menjadi fenomena bangsa Indonesia, dimana bahasa Inggris masuk dalam jajaran pelajaran yang ternyata tidak disukai oleh sebagian besar siswa dari mulai tingkat SD sampai tingkat perguruan tinggi. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa mereka (siswa) sebenarnya ingin (berniat) menguasai bahasa Inggris, tetapi kemudian muncul permasalahan-permasalahan yang justru membuat mereka malas untuk belajar lebih tekun lagi dengan pelajaran bahasa Inggris. Ada beberapa hal yang menghambat keinginan para siswa untuk belajar bahasa Inggris, diantaranya:
  1. Pemikiran yang terlalu sederhana (lebih rendah dari sederhana) tentang bahasa Inggris, karena bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu (mother tongue) sehingga mereka (siswa) merasa tidak telalu berminat untuk mempelajari lebih jauh bahasa Inggris.
  2. Kurangnya penekanan penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bahasa Inggris bagaikan air diatas daun talas, sekarang belajar besok lupa.
  3. Pemikiran mereka (siswa) belum mampu menjangkau jauh kedepan tentang perlunya menguasai bahasa Inggris di suatu hari. Generasi sekarang adalah generasi dengan pemikiran instan, apa yang dipelajari hari ini (inginnya) dirasakan hari ini pula.
  4. Lingkungan yang kurang mendukung dalam penguasaan bahasa Inggris. Jarang (sedikit) disuatu sekolah atau masyarakat terjadi pembicaraan yang "ngaco" dalam bahasa campuran (sebagian Inggris, sebagian Indonesia, sebagian Daerah) antar siswa. Padahal ini merupakan salah satu cara termudah untuk membiasakan penggunaan bahasa Inggris dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Tidak terasa tapi pasti penguasaan kosa kata akan bertambah setiap harinya.
  5. Pemikiran dan penerapan yang salah bahwa bahasa Inggris mutlak hanya digunakan pada saat pelajaran Bahasa Inggris saja, diluar pelajaran tersebut tidak perlu!
  6. Guru Bahasa Inggris yang kurang kompeten baik dari segi pengalaman penggunaan bahasa, kemampuan penguasaan bahasa, pemahaman dan penguasaan lingkungan (keadaan) kelas, penekanan pentingnya penguasaan bahasa dan penguasaan emosi anak didiknya. Hal ini seperti mudah dalam penjabaran kalimat tapi sulit dalam penjabaran tindakan. Hal paling sederhana adalah masalah kebiasaan dan kemudahan sepihak guru (hanya mencari kemudahan dalam mengajar).
Sebenarnya masih banyak faktor lain yang mempengaruhi (minimal) kemauan anak didik untuk belajar bahasa Inggris. Silahkan telaah dan tambahkan sendiri...
Hal ini mengingatkan pada seorang teman yang sangat profesional dalam pendidikan bahasa Inggris, "hal yang pertama harus di lakukan oleh seorang guru bahasa adalah sentuhlah emosinya sehingga akan muncul dalam pemikiran mereka keinginan yang kuat untuk belajar bahasa Inggris, setelah itu guru hanya perlu membantu memberikan sedikit kunci pembuka, motivasi dan sentuhan emosional kepada siswa. Sehingga mereka tidak terbersit sedikit pun untuk meninggalkan atau melupakan bahasa Inggris dalam waktu sedetik pun di kehidupan sehari-harinya. Jika kita mampu melakukan hal itu maka 50% keberhasilan penguasaan bahasa Inggris sudah dapat dipastikan."
Guru bahasa Inggris selayaknya adalah motivator untuk guru yang lain pula dalam memberikan sedikit wawasan penggunaan bahasa, atau memicu guru lain dalam penggunaan bahasa Inggris didalam kelas ataupun diluar kelas. Hal ini bertujuan untuk tidak memberikan celah sedikitpun kepada anak, sehinga mereka selalu terpacu mempelajari bahasa Inggris. Jangan sampai kejadian-kejadian aneh dan lucu terjadi dalam lingkungan lebih luas seperti cerita dibawah ini...

Judul ceritanya : OPEN
Dalam lingkungan perkotaan BANK adalah hal yang biasa ditemukan, bahkan hampir sebagian masyarakat kota menggunakan BANK sebagai sarana simpan pinjam uang. Tetapi tidak begitu dengan masyarakat pedesaan, mereka justru cenderung menghindari BANK. Hingga suatu hari adalah seorang pemuda pedesaan yang berencana mengadu nasib dikota.
Pemuda ini dalam masa keheranan dengan keadaan kota yang sangat jauh berbeda dengan keadaan didesanya. Dia berjalan-jalan dipusat kota untuk melihat-lihat keadaan, hingga berhentilah mata pemuda ini pada suatu gedung yang ramai dikunjungi orang yaitu BANK. Kemudian berjalan dalam keheranan pemuda desa mendekati gedung tersebut, belum juga berhenti heran di otaknya, tiba-tiba dia melihat tulisan besar digagang pintu gedung bertuliskan OPEN. Dalam hati dia berkata "Orang kota tidak ada kerjaan, membuat OPEN sebesar ini. Sebesar dan sebanyak apa bolu yang bisa dibuat di OPEN tersebut? Hmmmmmm...." Tidak lama kemudian seseorang bergegas masuk kedalam BANK. Maka dengan reflek layaknya Bruce Lee pemuda tersebut menarik tangan orang yang akan masuk ke BANK itu sambil berkata "Pak! Pak! Jangan masuk kedalam OPEN itu, panas pak...!" Orang tadi hanya tersenyum keheranan dan langsung masuk kedalam BANK. "Wah hebat orang itu tadi, berani masuk kedalam OPEN" Gumam pemuda desa sambil tetap saja keheranan. Sesaat kemudian keluarlah seseorang yang kebetulan keturunan Afrika (Negro). "Tuh kan....!!! Kataku bagaimana tadi!!! Jangan masuk ke OPEN, ya jadi beginilah pak! Anda menjadi gosongkan!!!" Ujar pemuda desa dengan semangat 45-nya menyalahkan orang negro yang baru keluar dari BANK...

Mudah-mudahan artikel ini menjadi pemicu dalam menciptakan generasi penerus yang lebih baik...Amiiin...
[Selengkapnya]

Bangkitkan Moralitas Bangsa

Selama 2009, moralitas menjadi menu utama pemberitaan media massa. Hal ini terlihat dari maraknya pemberitaan tentang korupsi, rekayasa kasus-kasus hukum, sampai berbagai musibah yang bermuara kepada rendahnya moralitas dalam menjaga lingkungan hidup. Seorang tokoh dunia, Thomas Jefferson pernah mengatakan, "Tinggalkan uang, tinggalkan keterkenalan, tinggalkan ilmu pengetahuan, dan tinggalkan bumi itu sendiri beserta segenap muatannya, itu lebih baik dari pada kita melakukan tindakan tak bermoral." Tentu kita miris dan prihatin dengan moralitas bangsa ini. Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya potret moralitas bangsa Indonesia? Ada beberapa indikator yang digunakan untuk melihat kualitas moral kehidupan suatu bangsa.
Merujuk kepada Thomas Lickona (1992) yang mengatakan, ada sepuluh tanda dari perilaku manusia yang menunjukan arah kehancuran suatu bangsa. Yakni, meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, ketidakjujuran yang membudaya, semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru, dan figur pemimpin. Ciri lainnya adalah pengaruh teman sebaya terhadap tindakan kekerasan, meningkatnya kecurigaan dan kebencian, penggunaan bahasa yang memburuk, penurunan etos kerja, menurunnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, meningginya perilaku merusak diri, dan semakin kaburnya pedoman moral.
Apabila melihat ciri-ciri tersebut (sepertinya) bangsa Indonesia menuju kehancuran suatu bangsa. Apabila ciri-ciri tersebut tergambar jelas melalui wajah media massa. Acara-acara kriminalitas di stasiun-stasiun televisi menggambarkan hal-hal seperti itu. Namun anehnya, menjadi salah satu tayangan yang digemari masyarakat.
sebagai bagian dari bangsa yang ingin selalu memperbaiki dan membangkitkan bangsa, kita akan selalu bertanya bagaimana agar bangsa ini mampu bertahan agar bangsa ini mampu bertahan bahkan menjadi maju dan berkembang? Kita harus menyadari, ada tiga musuh bangsa yang bisa berpotensi menghancurkan bangsa, yaitu kemiskinan, kebodohan dan kebobrokan moral. Namun, kebobrokan moral dapat menjadi pemicu utama terjadinya kemiskinan dan kebodohan. Ketiga musuh tersebut harus secara simultan dan serius diperangi. Kemiskinan dapat diberantas dengan pembangunan ekonomi, agar kesejahteraan dapat dicapai rakyat secara luas. Kekayaan alam Indonesia sangat potensial untuk dikelola dan dimanfaatkan, agar tak ada lagi rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan. kebodohan diperangi dengan program pendidikan bagi semua kalangan baik secara formal maupun informal.
Kebobrokan moral harus di berantas agar individu-individu terhindar dari perilaku yang merugikan diri, orang lain dan masyarakat. Moralitas berkaitan dengan aktifitas manusia yang di pandang baik atau tindakan yang benar, adil dan wajar. Masyarakat atau bangsa bermoral akan senantiasa menjunjung tinggi dan mengutamakan nilai-nilai tujuh Budi Utama, yaitu jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerja sama, adil, dan peduli.
Untuk kemajuan dan peningkatan kesejahteraan suatu bangsa dibutuhkan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya baik diluar maupun diperut bumi, di daratan, dan di lautan. Namun, sumber daya alam saja tidak cukup. Hutan dinegara kita terkenal sangat luas dan kaya keragamannya. Namun dengan adanya pembalakan hutan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, membuat hutan kita rusak dan tidak termanfaatkan untuk kesejahteraan bersama. Demikian juga dengan korupsi yang mengerogoti berbagai instansi dan perusahaan, pada akhirnya akan menghancurkan sendi kehidupan bangsa. Sebagaimana yang disampaikan Lickona, upaya untuk membuat suatu bangsa maju dan terhindar dari kehancuran ditentukan oleh kualitas moralnya. Moralitas yang berbasis pada nilai-nilai spiritualitas 99 Asmaul Husna akan membimbing seseorang berfikir, bersikap dan bertindak dengan panduan dari Allah SWT. Memasuki tahun 2010 ini, sudah waktunya kita menjadikan sebagai tahun kebangkitan moralitas bangsa, sehingga bangsa kita menjadi bangsa yang dihormati dan bermartabat. Bukan sekedar memamerkan kekayaan alam, melainkan juga sumber daya manusianya yang bermoral.

Artikel diambil dari Kolom Opini yang di tulis oleh Ary Ginanjar Agustian pada Harian Umum Pikiran Rakyat, edisi hari Senin, 28 Desember 2009, Halaman 31
[Selengkapnya]

Ujian Sekolah Yang Tergadaikan

UAS begitulah anak-anak sekolah sering menyingkatnya untuk suatu kegiatan rutin per semester. Ujian Akhir Semester ini biasanya dilaksanakan hanya 1 kali persemester sebagai suatu upaya untuk merangkum perkembangan siswa dalam 1 semester tersebut. Dan atau sebagai salah satu upaya yang digunakan sekolah untuk mengetahui perkembangan siswa melalui nilai-nilai yang diperolehnya dengan menjawab beberapa gelintir pertanyaan yang diberikan kepada siswa melalui satu lembar kertas berisi kurang lebih 20 sampai dengan 40 butir pertanyaan dengan jenis soal PG (Pilihan Ganda). Siswa diwajibkan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disediakan jika mereka ingin memperoleh nilai suatu pelajaran untuk dimasukan dalam satu buku Laporan Pendidikan sebagai salah satu bentuk pelaporan sekolah kepada orang tua siswa, dan jika mereka siswa tidak menjawab soal-soal yang disediakan maka mereka dinilai kurang sempurna untuk memperoleh nilai yang tercantum didalam buku Laporan Pendidikan. Dan atau bahkan tidak memperoleh nilai akhir semester sama sekali. Tetapi siswa tidak diwajibkan untuk membaca soal-soal Ujian Akhir Sekolah (UAS) tersebut, mereka hanya diwajibkan untuk menjawab soal-soal yang disediakan. Hal ini membuat siswa tidak perlu untuk melakukan tindakan-tindakan ekstrim seperti menghapal, belajar dan atau kegiatan-kegiatan lainnya dalam rangka menghadapi pelaksanaan ujian tersebut. Karena siswa tidak diwajibkan membaca soal-soal ujian tersebut, maka mereka berupaya melakukan teknik-teknik tertentu dengan tujuan untuk menyelamatkan nilai yang harus diperolehnya, dan itu juga biasanya dilakukan siswa hanya pada akhir semester.
Hingga suatu saat kejadian langka berlangsung didepan mata sebagai suatu tontonan menarik dan gratis diakhir semester, layaknya film-film Holywood yang dibuat dengan efek-efek sangat canggih yang tentunya di sutradarai oleh sutradara abnormal sekelas James Cameron. Tontonan ini membuat hati ini getir untuk tetap diam tanpa upaya, bukanlah penonton jika tidak mampu berteriak saat suasana mencapai klimaks.
39 dari 42 siswa kelas XII kaget ketika mereka menerima pengumuman bahwa 2 diantara sekian mata pelajaran yang ada dinyatakan tidak lulus dan mereka harus melakukan remidial. Terlihat jelas kekecewaan dimata mereka melihat kenyataan tersebut, tapi kekecewaan tersebut tidaklah berlangsung lama karena dalam hitungan beberapa menit mereka tersadar bahwa nilai tidak lulus yang diterima tidaklah dihadapi sendiri tapi dihadapi oleh 39 siswa kelas tersebut. Ini berarti siswa yang lulus hanya 3 orang dari 42 siswa yang ada dalam kelas tersebut.
Kejadian langka ini seperti telah terskenario dengan baik oleh seorang penulis novel sekelas Andrea Hirata. 2 mata pelajaran berbeda tapi dengan hasil ketidaklulusan siswa yang sama persis, 39 siswa dinyatakan tidak lulus mata pelajaran Bahasa Inggris dan IPA. Hal yang aneh tapi langka ini tidak serta merta membuat guru-guru yang lain menjadi terfokus, atau mengalihkan perhatian ke masalah tersebut. Guru lain justru menganggap hal ini sebagai suatu kelumrahan dalam era globaliasi dimana internet menyentuh batas terkecil sekelas HP. Tidak ada kekagetan atau heran dengan masalah diatas, guru lain santai dan seperti ingin bercerita tanpa kata bahwa ini hal biasa yang terjadi disekolah tersebut. Dan atau mungkin anda sebagai pembaca juga tidak menemukan kerancuan pada kejadian langka diatas?
Remidial adalah salah satu cara untuk dapat mengakselerasi seorang atau beberapa orang siswa yang memperoleh nilai kurang memenuhi standar. Tapi remidial menjadi kurang bermakna jika dilakukan diakhir semester, dimana seharusnya siswa sudah terpotret secara maksimal perkembangannya selama satu semester tersebut. Kenapa remidial dilakukan diakhir semester? Ada beberapa hal yang menjadi kendala dilakukannya remidial diakhir semester:
  1. Teknik penilaian siswa oleh guru terfokus pada satu kegiatan tertentu dan atau kegiatan masal sekelas UAS (Ujian Akhir Semester).
  2. Sistem penilaian yang dilakukan guru terhadap siswa bukan terjadi pada proses tapi dilakukan penilaian terhadap siswa terjadi diakhir proses yang seharusnya menjadi proses akhir berupa pelaporan terhadap orang tua siswa.
  3. Penilaian yang dilakukan guru terhadap siswa tertumpu pada aspek penguasaan intelektualitas (IQ) dan kurang atau bahkan tidak dilakukan pada aspek lain seperti aspek penguasaan emosi (EQ) dan aspek integrasi spiritual (SQ).
  4. Faktor penentu perhitungan penilaian akhir siswa hanya terdapat pada beberapa titik, seperti absensi, ulangan harian, dan ujian akhir semester. Hal lain tidak tersentuh dan atau justru diabaikan.
Hal diatas menjadi salah satu penentu mundurnya kualitas anak didik. Jika teknik diatas terus menerus dilakukan pada dunia pendidikan Indonesia, maka akan muncuk efek jangka panjang yang cukup membahayakan, perlahan tapi pasti akan terjadi dan bahkan lebih hebat dari hal-hal yang tidak diinginkan dibawah ini:
  1. Munculnya generasi yang tidak mampu menghargai nilai-nilai yang diperolehnya sendiri, karena nilai tersebut tidaklah diperoleh mutlak dari hasil pemikirannya sendiri.
  2. Generasi berikutnya akan menjadi generasi instant yang justru akan lebih menghargai dan menghormati bimbel (bimbingan belajar) yang menjamur di seantero pelosok Indonesia. Sekolah seakan dipandang tidak mampu memberikan efek positif terhadap siswa, hanya pelengkap proses ritualitas belaka bahwa seorang anak haruslah sekolah sebagai salah satu rentetan kegiatan bertahap tanpa makna.
  3. Akan hadir guru-guru ditengah-tengah sekolah yang berani tanpa malu memperjualbelikan suatu nilai kepada siswanya sebagai konsekuensi (baca; tahapan remidial) karena ketidak seriusannya terhadap suatu mata pelajaran yang disampaikan guru tersebut.
  4. Hilangnya kepercayaan masyrakat terhadap lembaga pendidikan formal, sebagai dampak sistem penilaian siswa yang tidak terstruktur dan terarah.
  5. Siswa tidak lagi takut memperoleh nilai berapapun, toh dengan beberapa teknik lobi, atau karena kebaikan guru tersebut nilai akhir berubah menjadi memenuhi standar. Tetapi jelas siswa seperti ini bukanlah siswa yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang normal layaknya anak sekolahan.
Kekhawatiran yang sebenarnya sudah terjadi ditengah-tengah kita, dimana sekolah sudah tidak lagi mampu melakukan inovasi pendidikan karena juklak juknis yang terlalu detail, birokrasi yang handal tersembunyi, pimpinan yang kaku tidak idealis. Beragam nuansa warna pendidikan luntur hancur hanya tersisa warna hitam dan putihnya pendidikan Indonesia. Sulit ditemukan lembaga pendidikan formal yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai idealisme pendidikan, semua hanya wacana tanpa makna seperti halnya artikel ini.
Dan waktunya kita mengacungkan 2 jempol untuk sistem kapitalisme liberal yang telah menguasai pendidikan Indonesia dan mengantarnya sampai ke jurang kehancuran. Yang mampu mengubah wajah pendidikan Indonesia menjadi lebih cantik bak artis yang menelanjangi dirinya sendiri. Pendidikan Indonesia kini mampu berdiri tegak diatas pilar-pilar tajam terhunus yang mampu mencabik setiap apapun yang menghalangi maksud dan tujuan mulia kerakusan hingga menggelepar bersimbah darah generasi penerus. Begitu hebatnya kapitalisme meraih kemenangan semu dalam lingkaran api membara tanpa tapal batas yang dapat memberangus setiap apapun yang masuk dalam lingkaran itu. Namun...... Semua sudah berakhir...dan atau diakhiri...
Waktunya kita berdiri tegak diatas pilar syariah untuk meruntuhkan setiap pondasi kapitalis yang sudah dibangun diatas pendidikan Indonesia, hingga generasi penerus kita mampu lagi menghirup udara bersih penuh kedamaian.
[Selengkapnya]

Indahnya Berbagi

Seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balikbbuah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

"Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?" tanya sang wartawan.

"Tak tahukah anda?," jawab petani itu.

"Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula." Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus
menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula.

Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.
[Selengkapnya]

Bismillah

بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Pentingnya Guru Menguasai Teknologi Informasi


Hukum Mencabut Bulu Alis


Sulitnya Bahasa Inggris bagi Siswa


Bangkitkan Moralitas Bangsa


Ujian Sekolah Yang Tergadaikan


Indahnya Berbagi